
Bagi jutaan ibu di Indonesia, Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah agenda rutin bulanan yang penting. Namun, di balik manfaatnya, momen penimbangan berat badan bisa menjadi sumber kecemasan yang luar biasa, terutama bagi para ibu yang anaknya sedang berjuang dengan masalah makan. Timbangan seolah menjadi “rapor” bulanan yang menentukan perasaan lega atau justru rasa khawatir yang kian mendalam.
Sebuah testimoni tulus dari seorang ibu bernama Oktavianindy, ibunda dari Kanna, menggambarkan bagaimana sebuah “ikhtiar” di Thetamedika Surabaya berhasil mengubah kecemasan ini menjadi sebuah rasa percaya diri dan syukur.
Perjuangan yang dialami Ibunda Kanna adalah masalah yang sangat umum. Ia menceritakan bagaimana ia dulu merasa “pusing kalo keluar mau makan apa.” Ini adalah gambaran dari stres yang dirasakan saat rekreasi keluarga atau sekadar jalan-jalan ke luar rumah menjadi rumit karena sulitnya mencari makanan yang mau diterima oleh sang anak. Momen yang seharusnya menyenangkan menjadi beban pikiran.
Namun, ada kekhawatiran yang lebih besar di baliknya, yaitu dampak pada pertumbuhan sang anak. Kecemasan ini memuncak setiap kali jadwal Posyandu tiba.
Setelah memutuskan untuk menjalani terapi bersama Thetamedika Surabaya, sebuah perubahan besar mulai terasa. “Alhamdulillah kanna skrg udah lahap makannya,” tulisnya dalam komentar pertama. Masalah utama yang membuatnya “pusing” kini telah teratasi.
Dalam komentar lanjutannya, ia membagikan hasil yang paling membahagiakan dan terukur. “Bersyukur banget kenal theta, skrg kanna BBnya naik terus jd gak takut waktu posyandu,” ungkapnya.
Ini adalah sebuah kemenangan di dua level. Pertama, ada bukti fisik yang nyata: berat badan Kanna terus naik. Ini adalah indikator kesehatan dan kecukupan gizi yang paling diharapkan oleh setiap orang tua. Kedua, dan yang tak kalah penting, adalah kemenangan emosional bagi sang ibu. Perasaan “gak takut waktu posyandu” adalah sebuah kelegaan yang tak ternilai. Ia kini bisa datang ke Posyandu dengan senyum bangga, bukan lagi dengan hati yang was-was.
Ia juga menambahkan betapa proses terapi terasa menyenangkan bagi anaknya, terbukti dari panggilannya kepada para terapis: “trimakasih om dan tante theta surabaya.” Ini menunjukkan pendekatan yang ramah anak, yang membuat si kecil nyaman menjalani setiap sesi.
Kisah Kanna adalah cerminan sempurna dari tujuan akhir setiap terapi masalah makan. Ini bukan hanya tentang membuat anak mau makan. Ini tentang memastikan anak tumbuh sehat, yang dibuktikan dengan kenaikan berat badan. Dan yang terpenting, ini tentang mengembalikan ketenangan hati seorang ibu, membebaskannya dari kecemasan bulanan, dan mengubah momen Posyandu dari ajang penghakiman menjadi perayaan atas tumbuh kembang sang anak.