
Bagi seorang orang tua, kekhawatiran terhadap anak seringkali tidak berhenti pada masalah yang terlihat hari ini, tetapi menjalar jauh ke bayang-bayang masa depan. Sebuah masalah makan bukan lagi sekadar soal gizi, tetapi bisa menjadi benih kecemasan akan kehidupan sosial anak kelak. Inilah pemikiran mendalam yang dibagikan oleh Pizka Dwi, seorang ibu yang memberikan “testimoni nyata” tentang alasannya berjuang mati-matian mencari solusi untuk putranya.
Kisah ini dimulai dengan sebuah kondisi yang sangat ekstrem. Ini bukan tentang anak yang tidak suka nasi, melainkan fobia. “ktempelan nasi sebulir aja dy muntah,” tulisnya. Sebuah reaksi fisik yang begitu hebat terhadap sebutir nasi menunjukkan betapa dalamnya penolakan dan ketakutan yang dirasakan sang anak.
Bagi Pizka Dwi, masalah ini memicu serangkaian kekhawatiran yang lebih besar. Ia berpikir jauh ke depan. “Kenapa kita putusin buat terapi,” tanyanya retoris, “karena kita g mau nyusahin anak kita di kemudian hari, g mau jd objek bullying.”
Ini adalah ketakutan paling mendasar dari seorang ibu: melihat anaknya tersakiti atau terasing. Ia membayangkan skenario di mana keunikan anaknya ini bisa membuatnya menjadi sasaran perundungan. Ia juga cemas akan momen-momen sosial di sekolah. “Gimana nanti kalau pas ada acara disekolah yg mengharuskan makan bersama dengan menu yg sama,” lanjutnya. Kekhawatiran ini sangat valid. Seorang anak yang tidak bisa berpartisipasi penuh dalam aktivitas bersama teman-temannya berisiko merasa berbeda dan terkucilkan.
Didorong oleh keinginan luhur untuk melindungi masa depan anaknya, dan dengan sebuah filosofi yang kuat, ia mengambil keputusan. “Yg penting kita udah ngusahain yg terbaik buat anak kita, jd g ada sesalan ke depanny,” tegasnya. Ini bukan lagi sekadar mencari solusi, ini adalah tentang menjalankan tugas suci sebagai orang tua untuk mencegah penyesalan di kemudian hari.
Dengan pertimbangan matang, setelah menimbang opsi lain yang mungkin mahal tanpa jaminan, pilihannya jatuh pada hipnoterapi di Thetamedika. Dan “ikhtiar” terbaiknya itu membuahkan hasil yang luar biasa.
“Alhamdulillah setelah 6 kali sesi sudah mulai lahap makan nasi dalam durasi yg jg semakin singkat,” ungkapnya.
Spesifik, terukur, dan penuh rasa syukur. Dalam enam sesi, dinding fobia yang tadinya begitu kokoh berhasil diruntuhkan. Anak yang dulu muntah karena sebutir nasi, kini bisa makan dengan lahap. Prosesnya pun efisien, dengan durasi terapi yang semakin pendek seiring kemajuan.
Testimoni dari Pizka Dwi adalah sebuah pelajaran berharga. Ini bukan hanya cerita tentang keberhasilan sebuah metode terapi. Ini adalah cerita tentang kekuatan cinta seorang ibu yang mampu melihat jauh ke depan, yang berjuang hari ini untuk memastikan senyuman dan kebahagiaan anaknya di masa mendatang. Ini adalah bukti bahwa investasi terbaik yang bisa kita berikan pada anak adalah mengatasi setiap rintangan yang dapat menghalangi mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bahagia.