
Bagi seorang ibu, sebulan bisa terasa seperti selamanya, terutama ketika bulan itu diisi dengan kecemasan melihat sang buah hati berjuang dengan makanannya. Ini bukan lagi sekadar cerita anak yang pilih-pilih lauk, melainkan sebuah penolakan total yang membuat hati orang tua mana pun merasa risau. Kisah inilah yang dibagikan dalam sebuah testimoni hangat dari Deviintan Permata, ibunda dari salah satu pasien cilik Thetamedika.
Dalam kolom komentar sebuah video Instagram Reels yang diunggah oleh Thetamedika tentang proses terapi, Bunda Deviintan memberikan kesaksian langsung yang begitu kuat dan menyentuh. Ia mengonfirmasi bahwa anak yang ada di dalam video tersebut adalah putranya, dan menceritakan sebuah transformasi yang luar biasa.
“Testi hangat dari aku yang anaknya di video pertama ini, alhamdulillahh banget after terapi di theta sekarang makannya lahap banget dari yang gak mau liat nasi sama sekali sealama satu bulan 😥😥😥,” tulisnya.
Kalimat ini melukiskan gambaran yang sangat jelas tentang sebuah perjuangan. Mari kita cerna inti dari masalahnya: seorang anak yang “gak mau liat nasi sama sekali.” Ini adalah tingkat penolakan atau fobia makanan yang ekstrem. Bukan hanya menolak untuk makan, tetapi bahkan melihat wujud nasi saja sudah menjadi hal yang tidak tertahankan baginya. Kondisi ini berlangsung selama satu bulan penuh. Satu bulan di mana setiap waktu makan mungkin diisi dengan tangisan, bujukan yang tak berhasil, dan kekhawatiran yang terus menumpuk di benak orang tua mengenai asupan gizi sang anak.
Dalam situasi seperti ini, keputusasaan bisa dengan mudah menyergap. Namun, keluarga ini memutuskan untuk mencari jalan keluar dan mempercayakan solusinya kepada Thetamedika. Mereka memilih jalur hipnoterapi, sebuah pendekatan yang seringkali menjadi jawaban untuk masalah-masalah yang akarnya tertanam di pikiran bawah sadar.
Hipnoterapi anak yang profesional bekerja dengan cara yang sangat lembut. Alih-alih memaksa, terapis menciptakan sebuah lingkungan yang aman dan nyaman untuk membantu anak melepaskan “program” negatif yang terlanjur terpasang di benaknya. Dalam kasus putra Bunda Deviintan, terapi ini bertujuan untuk menetralisir rasa takut atau penolakan mendalam terhadap nasi, lalu menggantinya dengan sugesti baru yang positif: bahwa nasi adalah teman, sumber energi, dan sesuatu yang nikmat.
Dan hasilnya? Sebuah keajaiban kecil di meja makan. Anak yang sebulan lalu bahkan enggan menatap nasi, kini telah berubah total. “Sekarang makannya lahap banget,” ungkap sang bunda dengan penuh rasa syukur. Transformasi dari penolakan total menjadi makan dengan lahap adalah sebuah lompatan besar yang menandakan keberhasilan terapi hingga ke akarnya.
Kisah ini adalah bukti nyata bahwa tidak ada kata menyerah dalam perjuangan orang tua. Ini juga menjadi penegas bahwa untuk masalah perilaku yang kompleks seperti fobia makanan, solusi yang menyentuh sisi psikologis anak seringkali menjadi kunci yang paling efektif. Testimoni dari Bunda Deviintan bukan sekadar ulasan, melainkan sebuah cerita tentang harapan yang terwujud dan kelegaan yang tak terkira, mengakhiri sebulan penantian yang penuh kecemasan.