ADHD: Definisi, Gelaja, dan Cara Mengobati

penjelasan lengkap ADHD

Definisi ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder)

Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) adalah salah satu gangguan mental yang paling umum memengaruhi anak-anak. Gejala utamanya meliputi inattensi (sulit mempertahankan fokus), hiperaktivitas (gerakan berlebihan yang tidak sesuai dengan situasi), dan impulsivitas (tindakan terburu-buru tanpa dipikirkan). ADHD dianggap sebagai gangguan kronis dan dapat melemahkan, serta diketahui memengaruhi banyak aspek kehidupan individu, termasuk prestasi akademik dan profesional, hubungan interpersonal, dan fungsi sehari-hari (Harpin, 2005).

ADHD seringkali disalahpahami, namanya memang menyiratkan “kurang perhatian”, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Sebenarnya, ADHD adalah sebuah kondisi yang memengaruhi cara kerja otak Anda, membuatnya sedikit berbeda dalam mengelola dan mengarahkan perhatian.

Ketika tidak ditangani dengan tepat, ADHD dapat menyebabkan rendahnya harga diri dan fungsi sosial pada anak-anak (Harpin dkk., 2016). Orang dewasa dengan ADHD mungkin mengalami perasaan tidak berharga, sensitivitas terhadap kritik, dan peningkatan kritik diri, yang mungkin berasal dari tingkat kritik yang lebih tinggi sepanjang hidup mereka (Beaton, dkk., 2022). Penting untuk dicatat bahwa presentasi dan penilaian ADHD pada orang dewasa berbeda; halaman ini berfokus pada anak-anak.

Tipe-Tipe ADHD

Terdapat 4 tipe ADHD yang biasa didiagnosis oleh psikolog atau dokter pada anak dan dewasa

Inattentive ADHD (Sulit Fokus)

ADHD inatentif membuat orang/anak kesulitan untuk fokus, kurang memperhatikan, dan mengatur diri. Namun untuk mendiagnosa seseorang memiliki inattentive ADHD harus dilakukan oleh profesional dan memiliki enam (untuk usia dibawah 17 tahun) dan 5 tanda.

Berikut tanda-tanda seseorang yang mengalami inattentive ADHD

  • Sering tidak teliti pada detail kecil atau ceroboh saat melakukan sesuatu
  • Memiliki kesulitan atau masalah menjaga fokus pada tugas atau suatu kegiatan yang memerlukan atensi seperti mendengarkan penjelasan panjang, membaca buku atau menonton film yang panjang
  • Terlihat tidak mendengarkan saat diajak bicara dan seolah pikirannya berada di tempat lain
  • Tidak mengikuti intruksi, tidak menyelesaikan tanggung jawab dengan penuh atau dapat menyelesaikan namun fokus gampang terdistraksi atau hilang
  • Kesulitan untuk mengorganisir tugas atau pekerjaan, baik secara pengelolaan deadline, waktu, atau tempat kerja yang berantakan.
  • Menghindari aatau tidak suka tugas yang membutuhkan usaha mental atau fokus jangka panjang seperti membuat laporan atau mengisi formulir
  • Sering kehilangan barang-barang penting untuk tugas maupun kehidupan sehari-hari, seperti kunci, buku catatan, dompet, ponsel, atau kacamata.
  • Mudah terganggu atau terdistraksi ketika melakukan tugas yang mengharuskan untuk fokus
  • Melupakan beberapa to-do list seperti membalas chat, membayar tagihan, atau salah jam ketika janjian.

Hyperactive-impulsive ADHD (Hiperaktif)

Jenis ADHD ini memiliki ciri sulit diam atau tidak bisa tenang. Orang dengan ADHD jenis hiperaktif-impulsif biasanya memiliki energi berlebih, suka bicara, dan biasanya sering memotong pembicaraan orang lain. Terkadang juga bertindak tanpa pikir panjang atau impulsif.

  • Sering menggerakkan tangan atau kaki, mengetuk meja, atau menggeliat di kursi
  • Tidak bisa diam di tempat pada waktu lama
  • Suka berlari atau bergerak lebih di tempat yang tidak seharusnya
  • Sulit melakukan kegiatan dengan tenang
  • Selalu terlihat sibuk dan bergerak
  • Terlalu banyak bicara
  • Sering menyela jawaban sebelum pertanyaan selesai, seperti menyelesaikan kalimat orang lain dan tidak sabar untuk berbicara dalam percakapan
  • Sulit menunggu giliran
  • Sering menyela atau mengganggu orang lain, misalnya memotong pembicaraan, permainan, kegiatan atau bahkan menggunakan barang orang lain tanpa izin.

ADHD Gabungan

Jenis ADHD ini paling umum dan banyak ditemui. Pada pengidap ADHD banyak yang memiliki gejala yang beririsan antara inattentive dan hiperactive-implusive. Biasanya untuk diagnosis ini memerlukan vonis dari psikolog atau dokter. ADHD gabungan seringkali muncul dengan gangguan atau masalah mental lain seperti ppositional defiant disorder (gangguan pembangkang menentang), conduct disorder (gangguan perilaku), gangguan kecemasan, atau gangguan belajar.

Unspesified Presentation ADHD

Terdapat kondisi seseorang yang memiliki gejala ADHD yang sangat parah sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari namun gejalanya tidak cocok dengan kriteria dengan jenis ADHD inatentif, hiperaktif-impulsif, atau kombinasi. Sehingga diagnosis sebagai ADHD tidak spesifik (unspecified).

Gejala ADHD

Gejala ADHD dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:

  • Gejala Inatensi (Sulit Fokus): Gejala-gejala ini berkaitan dengan kemampuanmu untuk fokus pada suatu tugas dan menyelesaikannya dari awal sampai akhir. Beberapa orang mungkin sering menunda pekerjaan yang butuh konsentrasi tinggi. Selain itu juga terlihat melamun atau kurang nyambung saat diajak bicara, dan sering kehilangan barang. Beberapa gejala yang muncul ketika seseorang mengidap inattentive ADHD, menghindari tugas yang membutuhkan fokus lama, kurang teliti dan ceroboh, sering melupakan hal yang akan dikerjakan, mudah terdistraksi oleh hal lain disekitar bahkan pikiran sendiri, sulit mengatur/mengorganisir barang dan waktu, sering kehilangan barang, sering terlihat melamun, mudah memulai sesuatu tapi melenceng dari tugas atau bisa bisa menyelesaikannya.
  • Gejala Hiperaktivitas/Impulsivitas: Gejala-gejala ini berhubungan dengan kemampuanmu untuk duduk tenang atau merasa nyaman berada di satu tempat. Selain juga kesulitan menunggu giliran untuk berbicara atau melakukan sesuatu. Beberapa gejala yang muncul ketika seseorang mengidap hiperactive-impulsive ADHD diantaranya, sering menggerakkan tangan atau kaki saat duduk, sering bangun dari duduk ketika seharusnya tetap di tempat, sulit melakukan permainan yang membutuhkan fokus, suka menyela perkataan atau kegiatan orang lain, melompat, memanjat, atau merasa gelisah, dan tidak bisa diam.

Penyebab ADHD yang Sering Terjadi

Ilmuan belum memastikan terdapat penyebab pasti ADHD, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa genetik (keturunan) memiliki peran besar.

Dikutip dari National Institutes of Health (NIH), beberapa gen memang dapat menurunkan ADHD, tapi belum ada satu pun gen tunggal atau kombinasi gen tertentu yang sudah dipastikan menjadi penyebabnya.

Namun beberapa keluarga yang memiliki ADHD mengalami kondisi yang sama. Sehingga anak dengan ADHD biasanya memiliki orangtua atau kerbat biologis yang juga mengidap ADHD.

Selain faktor keturunan atau genetik, terdapat bukti jika ada perbedaan pada struktur otak anak dengan ADHD dibanding anak tanpa kondisi ADHD. Misalnya, anak dengan ADHD punya volume materi abu-abu dan putih otak yang lebih sedikit. Mereka juga menunjukkan aktivitas area otak yang berbeda saat melakukan tugas-tugas tertentu.

Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa lobus frontal, nukleus kaudatus, dan cerebellar vermis di otak adalah bagian-bagian yang terpengaruh pada ADHD.

Selain itu terdapat faktor lain seperti kekurangan berat badan saat lahir atau lahir prematur, sering terpapar zat toksikologi (alkohol,rokok, dan timbal) selama kehamilan, dan stres ekstem.

Komplikasi dan Risiko Penderita ADHD

ADHD dapat memengaruhi anak atau seseorang melihat dan memposisikan dirinya sendiri dan bagaimana berinteraksi dengan lingkungan dan sekitarnya. Jika tidak ditangani dengan tepat anak akan mengalami beberapa hal negatif:

  • Rasa Percaya Diri Rendah: Anak bisa merasa kurang mampu atau berbeda dari teman-temannya, yang akhirnya membuat kepercayaan dirinya menurun.
  • Nilai Sekolah Kurang Bagus dan Sulit Mengembangkan Potensi Penuh: Hal ini dapat terjadi karena kesulitan fokus dan mengatur diri, anak mungkin tidak bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya di sekolah, padahal ia punya potensi.
  • Kesulitan dalam Situasi Sosial: Ini bisa terjadi sebagian karena teman-teman mungkin mengolok-olok atau tidak mau bermain dengannya, sehingga anak jadi susah bergaul.
  • Risiko Lebih Tinggi Mengalami Penyimpangan: Tanpa penanganan yang tepat, ada risiko lebih besar bagi mereka untuk mengembangkan masalah ketergantungan zat berbahaya di kemudian hari.
  • Sering Mengalami Kecelakaan dan Cedera saat Berkendara: Impulsivitas dan kurangnya perhatian bisa meningkatkan risiko kecelakaan hingga cedera atau bahkan kejadian fatal karena menderita ADHD
  • Kesulitan Mendapatkan dan Mempertahankan Pekerjaan saat Dewasa: Tantangan dalam organisasi, fokus, atau mengendalikan impuls bisa menjadi hambatan dalam dunia kerja.

Bagaimana Hipnoterapi Mendiagnosa ADHD

Untuk mendiagnosa sesorang mengidap ADHD, harus disertai dengan bukti seseorang mengalami banyak atau semua gejala ADHD dan tidak dapat dilakukan secara mandiri dan harus menggunakan assesmen khusus menggunakan DSM-5-TR. Biasanya gejalanya sudah timbul sejak masih anak-anak hingga remaja. Berikut kriteria yang harus terpenuhi untuk seseoramng dapat didiagnosa ADHD oleh ahli:

  • Jika masih anak-anak harus mengalami 6 (enam) atau lebih dari salah satu dua grup besar (inatentif atau hiperaktif-impulsif) atau mengalami 6 gejala pada keduanya (12 gejala atau lebih)
  • Gejala dimulai sebelum usia 12 tahun
  • Gejalanya muncul dan terjadi minimal pada dua tempat/kondisi seperti di rumah dan di sekolah, atau di lingkungan bermain.
  • Gejala yang timbul mengganggu kehidupan sehari-hari bahkan mengganggu orang lain dan lingkungan.

Biasanya anak yang mengalami ADHD juga menunjukkan gejala kondisi kesehatan mental lain yang mengganggu seperti depresi, gangguan kecemasan (anxiety), bahkan pada beberapa kasus ADHD juga muncul pada anak berkebutuhan khusus seperti autis, disleksia, atau gangguan belajar.

Apakah ADHD Termasuk Disabilitas?

Mengutip dari Heathline, di Amerika ADHD dianggap sebagai disabilitas. Namun hal ini juga tergantung dari keparahan kondisinya, dimana ADHD terdapat tingkatannya, bisa ringan, sedang atau parah. Sebab pada beberapa kondisi dapat mengganggu rutinitas pekerjaan yang membutuhkan fokus. Meskipun melibatkan gangguan fokus, ADHD bukan termasuk gangguan/disabilitas belajar. Meskipun begitu dalam beberapa penelitian disebut jika anak-anak dengan ADHD lebih rentan memiliki gangguan membaca (disleksia) atau sulit berhitung (diskalkulia).

Apakah ADHD Bisa Sembuh Permanen?

Secara medis, ADHD tidak bisa disembuhkan secara permanen. ADHD adalah kondisi perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang berarti ada perbedaan dalam cara otak berkembang dan berfungsi. Perbedaan ini bersifat struktural dan fungsional, sehingga tidak bisa “dihilangkan” begitu saja.

Namun,gejala ADHD bisa dikelola dan dikendalikan denganefektif, sehingga individu dengan ADHD bisa menjalani kehidupan yang produktif, mandiri, dan berkualitas. Banyak orang dengan ADHD yang mendapatkan penanganan tepat dapat berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan, dan karier.

Mengapa Tidak “Sembuh Permanen”?

Beberapa alasan mengapa ADHD tidak dianggap sebagai kondisi yang bisa sembuh permanen adalah:

Aspek Neurobiologis: ADHD melibatkan perbedaan pada struktur dan fungsi otak, terutama di area yang mengatur perhatian, impulsivitas, dan hiperaktivitas (misalnya, korteks prefrontal, ganglia basal, dan serebelum). Ini bukan seperti infeksi yang bisa diberantas dengan obat.

Gejala Dapat Berlanjut hingga Dewasa: Meskipun hiperaktivitas seringkali berkurang seiring bertambahnya usia, masalah dengan fokus, perhatian, dan impulsivitas dapat berlanjut hingga dewasa. Sekitar dua pertiga anak-anak dengan ADHD masih memiliki gejala yang signifikan saat dewasa.

Pengelolaan Jangka Panjang: Penanganan ADHD seringkali membutuhkan kombinasi terapi (perilaku, kognitif) dan/atau obat-obatan dalam jangka panjang untuk membantu mengelola gejala secara konsisten.

Kesimpulan

ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perhatian, fokus, impulsivitas, dan kadang hiperaktivitas. Gejalanya meliputi kesulitan konsentrasi, mudah teralihkan, sering lupa, gelisah, berbicara berlebihan, atau sulit menunggu giliran. Gejala ini umumnya muncul sebelum usia 12 tahun dan berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Kondisi ini tidak bisa sembuh total, namun gejalanya bisa dikelola efektif dengan penanganan yang tepat.

Pusat Bantuan
Theta Website Logo