Dari Mana Datangnya Sikap Ambisius? Ilmuwan Ungkap Faktor Psikologis dan Lingkungan

team work collaboration

Sikap ambisius atau yang kerap disebut “ambis” sering kali terlihat dalam berbagai situasi, mulai dari lingkungan sekolah hingga dunia kerja. Ada individu yang sangat terdorong untuk selalu menjadi yang terbaik, sementara sebagian lainnya memilih menjalani proses dengan lebih santai tanpa tekanan berlebihan.

Fenomena ini kerap tampak sejak usia dini. Dalam kompetisi atau kegiatan kelompok anak-anak, sebagian terlihat sangat berorientasi pada kemenangan, sementara yang lain lebih fokus pada interaksi sosial dan kesenangan bersama.

DIlansir dari detik.com, sikap kompetitif tidak sekadar keinginan untuk menang, melainkan dorongan untuk selalu menjadi lebih baik dibandingkan orang lain. Individu dengan karakter ini cenderung sering membandingkan pencapaian dirinya dengan orang di sekitarnya.

Apa Itu Sikap Kompetitif?

Secara psikologis, sikap kompetitif berkaitan erat dengan kebutuhan akan pencapaian dan pengakuan. Ketika berhasil unggul, individu kompetitif akan merasa puas. Namun, jika berada di bawah orang lain, mereka dapat merasakan kegelisahan atau tekanan emosional.

Menurut penjelasan ilmuwan yang dikutip Detik.com dari laman Phys, sifat kompetitif juga memiliki dasar evolusioner. Inge Gnatt, pengajar psikologi di Swinburne University of Technology, Australia, menyebutkan bahwa kompetisi berperan penting dalam kelangsungan hidup manusia sebagai makhluk sosial, termasuk dalam memperoleh status, penghasilan, dan relasi.

Selain dipengaruhi oleh kepribadian dan faktor genetik, sikap kompetitif juga sangat dibentuk oleh lingkungan dan budaya tempat seseorang tumbuh.

Peran Budaya dan Lingkungan dalam Membentuk Ambisi

Lingkungan keluarga, sekolah, maupun tempat kerja yang menekankan persaingan tinggi cenderung melahirkan individu yang kompetitif. Sebaliknya, lingkungan yang mendorong kolaborasi dan kerja sama akan menekan intensitas persaingan antarindividu.

Budaya juga memengaruhi cara seseorang mengekspresikan ambisi. Dalam budaya yang menjunjung individualisme, sikap kompetitif biasanya ditunjukkan secara terbuka. Sementara dalam budaya kolektivis, kompetisi cenderung bersifat lebih tersembunyi, misalnya melalui perbandingan diri secara diam-diam atau menjaga jarak dengan anggota kelompok lain.

Baca Juga : Fenomena Bunuh Diri Anak dan Remaja Meningkat, Psikolog UGM Ingatkan Kerentanan Generasi Alpha

Dampak Positif dan Negatif Sikap Kompetitif

Sikap kompetitif dapat memberikan dampak positif, terutama dalam memacu motivasi dan semangat belajar. Individu dengan tingkat ambisi tinggi biasanya terdorong untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas diri.

Namun, di sisi lain, ambisi yang berlebihan juga berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental. Dikutip dari Detik.com, individu yang terlalu kompetitif lebih rentan mengalami stres, kecemasan, serta perasaan tidak pernah cukup. Dalam konteks akademik, dorongan untuk selalu “menang” bahkan dapat meningkatkan tekanan psikologis yang berlebihan.

Sebuah studi menunjukkan bahwa kemampuan kognitif seseorang dapat meningkat ketika berkompetisi dengan individu yang lebih unggul. Namun, kondisi fisiologis tubuh justru menunjukkan tanda-tanda stres, seperti detak jantung yang lebih cepat. Sebaliknya, kerja sama menghasilkan performa yang sama baiknya tanpa meningkatkan tekanan fisik maupun mental.

Apakah Sikap Kompetitif Bisa Dikelola?

Meski dipengaruhi oleh faktor genetik dan kepribadian, sikap kompetitif bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak bisa diubah. Beberapa pendekatan yang dapat membantu meredam ambisi berlebihan antara lain membiasakan diri dengan kerja sama, mengubah cara pandang terhadap pencapaian, serta mengikuti pendekatan terapi psikologis.

Pendekatan seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT) maupun Compassion-Focused Therapy disebut mampu membantu individu menyeimbangkan dorongan berprestasi dengan penerimaan diri dan empati terhadap orang lain.

Pada akhirnya, merasa terpacu saat berkompetisi merupakan hal yang wajar. Namun, penting untuk menyadari bahwa keberhasilan tidak selalu harus diraih melalui persaingan ketat. Dalam banyak situasi, sikap tenang, kolaboratif, dan seimbang justru dapat menghasilkan capaian yang sama baiknya tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Pusat Bantuan
Theta Website Logo