
Perkembangan teknologi dalam satu dekade terakhir telah membawa perubahan signifikan dalam dunia terapi psikologi. Praktik yang sebelumnya didominasi oleh pertemuan tatap muka kini mulai bergeser ke arah layanan terapi daring, dengan keterlibatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin masif.
Dikutip dari Tempo.co, perubahan ini dijelaskan oleh Profesor di Departemen Psikiatri University of California San Diego sekaligus Staf Psikologi di VA San Diego Healthcare System, Thomas Rutledge, yang memaparkan dinamika dunia terapi psikologi sepanjang periode 2015–2025. Menurutnya, transformasi ini membawa peluang besar sekaligus tantangan baru bagi para profesional kesehatan mental.
Dari Terapi Tatap Muka ke Terapi Daring
Pada sekitar tahun 2015, terapi psikologi masih didominasi oleh pendekatan konvensional atau terapi tatap muka langsung di klinik. Metode ini dinilai efektif karena memungkinkan terbangunnya ikatan emosional yang kuat antara terapis dan klien. Kontak langsung juga memudahkan psikolog dalam membaca bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta respons nonverbal lain yang penting dalam proses asesmen psikologis.
Namun, seiring berkembangnya teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, terapi daring mulai menjadi pilihan utama. Banyak klien memilih melakukan sesi terapi dari rumah melalui perangkat digital, baik karena keterbatasan jarak dan waktu maupun untuk menghindari stigma sosial yang masih melekat pada isu kesehatan mental.
Memasuki tahun 2025, praktik terapi psikologi mengalami pergeseran besar. Klinik psikologi tidak lagi selalu hadir dalam bentuk ruang fisik, tetapi juga hadir melalui layar gawai. Terapi daring menawarkan fleksibilitas dan kenyamanan, sehingga klien merasa lebih aman dan terbuka dalam menyampaikan permasalahan mental yang dialami.
Tantangan Terapi Psikologi Secara Online
Meski dinilai efisien, terapi psikologi daring juga memiliki keterbatasan. Dikutip dari laporan Tempo.co, salah satu tantangan utama adalah berkurangnya kedalaman ikatan emosional antara terapis dan klien. Interaksi melalui layar dinilai belum sepenuhnya mampu menggantikan kehadiran fisik yang memungkinkan observasi bahasa tubuh secara menyeluruh.
Selain itu, keterbatasan dalam membaca mimik wajah dan gerak tubuh halus klien dapat memengaruhi ketepatan diagnosis dan pemahaman kondisi psikologis secara komprehensif.
Peran AI dalam Dunia Terapi Psikologi
Di tengah perkembangan teknologi, keterlibatan AI dalam terapi psikologi juga semakin terlihat. AI dinilai mampu membantu terapis dalam aspek administratif, pencatatan data, hingga analisis awal kondisi klien. Teknologi ini berpotensi merevolusi cara penanganan kesehatan mental dengan meningkatkan efisiensi dan akurasi perencanaan terapi.
Namun demikian, muncul pula kekhawatiran terkait penggunaan AI secara berlebihan. Sejumlah aplikasi terapi berbasis AI bahkan memungkinkan klien berinteraksi dengan sistem otomatis atau robot yang dirancang untuk merespons keluhan psikologis.
Pertanyaannya, apakah sistem yang tidak memiliki empati manusia dapat menggantikan peran terapis sepenuhnya? Empati masih dianggap sebagai inti utama dalam terapi psikologi yang efektif, sehingga kehadiran teknologi seharusnya berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti hubungan terapeutik.
Potensi Perkembangan Terapi Psikologi di Masa Depan
Melihat laju perkembangan teknologi, dunia terapi psikologi diperkirakan akan terus berkembang hingga tahun 2035. Thomas Rutledge menyebutkan bahwa AI di masa depan berpotensi membantu analisis pola bicara, ekspresi wajah, hingga data biometrik klien untuk mendukung akurasi diagnosis dan perencanaan perawatan.
Meski demikian, ketergantungan berlebihan pada teknologi juga berisiko mengaburkan peran terapis sebagai figur penyembuh yang empatik. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pendekatan humanis menjadi kunci penting dalam masa depan layanan kesehatan mental.
